Sunday, March 29, 2015

OUTING CLASS MAPK Solo : Menambah Wawasan, Merajut Jaringan, Mempersiapkan Masa Depan

Outing Class atau pembelajaran di luar regular kelas merupakan salah satu program pembelajaran di MAPK MAN 1 Surakarta. Di madrasah besutan almarhum Prof. Munawir Sadzaly ini , banyak program kegiatan belajar yang bersifat pembelajaran di luar kelas seperti, praktek berdakwah dan mengajar Taman Pendidikan al-Qur'an di masyarakat, Camping Dakwah Ramadhan dan berkunjung atau kegiatan pembelajaran di lembaga-lembaga lain baik lembaga pendidikan maupun non pendidikan. Di antara instansi non pendididikan yang pernah didatangi peserta didik MAPK MAN 1 Surakarta adalah  Penerbit Tiga Serangkai, Jawa Pos di Surabaya dan Lembaga Astronomi BOSCA Bandung.
Bulan Maret 2015 ini tepatnya tanggal 24-25 para peserta didik kelas XI MAPK Surakarta bertandang ke Kota dingin Malang untuk mengunjungi UIN Maulana Malik Ibrahim dan UNIBRAW Malang. Di UIN para siswa mengunjungi International Class Program (ICP)  di FITK  untuk mengetahui lebih jauh tentang Kelas Internasional yang dikembangkan di UIN khusunya di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Hal ini tidak lepas dari kecenderungan peserta didik MAPK MAN 1 Surakarta selama ini yang banyak meneruskan ke Perguruan Tinggi Luar Negeri dan kelas-kelas internasional di Perguruan Tinggi Nasional. Dengan modal kemampuan bahasa Arab dan Inggris para alumni MAPK MAN 1 Surakarta memiliki peluang besar untuk masuk program-program tersebut. Dr. Hj. Sulalah , wakil Dekan Bidang Akademik, mengungkapkan keyakinannya bahwa SDM dari MAPK Solo sangat layak untuk bergabung ke ICP yang ada di UIN.
Di UNIBRAW  mereka mengunjungi Prodi Hubungan Internasional di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. di fakultas ini kebetulan ada beberapa alumni dan MAPK MAN 1 Surakarta yang menjadi dosen dan mahasiswa. Ide kunjungan ke HI inipun karena banyak siswa yang termotivasi untuk menjadi politisi, atau diplomat, karena beberapa alumni banyak yang terjun ke bidang itu , bahkan ada yang dikenal luas sebagai pengamat politik seperti Burhanudin Muhtadi

Tuesday, March 3, 2015

MAPK FAIR 2015 : MERAJUT SILATURRAHMI DAN MENUMBUHKAN PRESTASI

Gelaran MAPK Fair 2015 yang diselenggarakan oleh Oraganisasi Pelajar Program Khusus (OPPK) MAN 1 Surakarta baru dilaksanakan 01 Maret 2015 yang lalu. Kegiatan yang diselenggarakan secara rutin tiap tahun untuk menjalin silaturrahim dan menumbuhkan prestasi di antara siswa atau santri MTs & SMP tersebut,  untuk kali ini diperluas seluruh wilayah Jawa. Tahun lalu baru untuk wilayah Jateng & DIY.  
MAPK Fair tahun ini mengambil tema " Menembus batas menjadi yang teratas bersama MAPK". 
Dalam sambutan pembukaan ketua MAPK Fair 2015 Fiqhus Sunnah menjelaskan untuk memberi motivasi kepada para peserta lomba bahwa tema tersebut dimaksudkan agar kita tidak memberi batasan-batasan yang dapat melemahkan etos prestasi dalam berbagai bidang. Sementara Kepala Madrasah Aliyah Negeri 1 Surakarta Drs. H.M. Hariyadi Purwanto, M.Ag. memaparkan bahwa MAN 1 Surakarat yang memiliki visi " Islami dan Berprestasi" selalu mengembangkan budaya berprestasi dan mendorong peserta didiknya untuk berupaya kuat meraih mimpi, dan MAN 1 Surakarta telah membuktikan hal itu khususnya program MAPK yang telah banyak melahirkan alumni yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi luar negeri baik di Timur Tengah maupun di Eropa. 
Gelaran MAPK Fair 2015 diikuti oleh sekitar 38 Madrasah dan sekolah sejawa yang berpartisipasi dalam lomba pidato 3 bahasa (Arab,Inggris,Indonesia), MTQ, MHQ (Tahfidz), Kaligrafi, dan English Story Telling. Keluar sebagai juara umum MTs Riyadhotu Tolabah Rembang. Adapun masing-masing juara adalah Jasmin Amaly dari SMP Muhammadiyah PK Surakarta untuk pidato bahasa Inggris. Ali Jadil Haq dari MTsN Purworejo untuk pidato bahasa Arab. Fathur Rizki dari MTs Riyadhotu Thalabah Rembang untuk pidato bahasa Indonesia. Mansunatun Afidah dari MTs Riyadhotu Thalabah untuk MTQ. Shafira dari SMP Al Izzah Batu Malang untuk MHQ, Durratul Hikmah dari MTs NU Banat untuk kaligrafi. Dan Fatimah Aditya dari MTsN 1 Surakarta untuk English Story Telling.
 

Monday, December 8, 2014

Arabic Fair UNS 2014: Program Khusus MAN 1 Surakarta Meraih 3 Penghargaan


Delegasi Program Khusus MAN 1 Surakarta meraih tiga penghargaan dalam berpartisipasi pada kegiatan Arabic Fair 2014 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sastra Arab pada tangga 26-27 Nopember 2014 yang lalu. Ketiga penghargaan tersebut salah satunya diraih oleh Muadzah Nurul Azizah yang berhasil meraih juara I lomba pidato bahasa Arab. Muadzah yang saat ini duduk di kelas XII membawakan pidato dengan judul “Khashais al-Islam al-Mutamayyizah wa Dauruha li Muwaajahati al-Aulamah” (Keistimewaan Islam dan peranannya dalam menghadapi Globalisasi).   
Dua penghargaan lainya diraih di bidang kemampuan berdongeng dengan bahasa Arab masing masing oleh Ariena Sabiela Fadlolan yang meraih juara 1 dan Ria Cahyaning Utami yang meraih juara II. Ariena Sabiela yang saat ini masih duduk di kelas X membawakan dongeng tentang Jaka Tarub, sedangkan Ria membawakan dongeng tentang Legenda Rawa Pening.
Abdul Mutolib, M.Ag. selaku kepala Program Khusus MAN 1 Surakarta mengungkapkan rasa syukurnya atas prestasi yang diraih oleh anak didiknya, meskipun masih belum memenuhi ekspektasi yang diharapkan, karena ada beberapa cabang lain seperti kaligrafi yang biasanya selalu mendapat kejuaraan untuk tingkat karesidenan Surakarta, namun pada event tersebut belum mendapat juara.
Arabic Fair 2014 UNS sendiri merupakan acara tahunan yang diselenggarakan untuk mensosialisasikan jurusan sastra Arab kepada siswa SLTA. Kegiatan ini berisi lomba-lomba yang terkait dengan Bahasa Arab dan diikuti oleh 12 SLTA di wolayah Karesidenan Surakarta.

Wednesday, February 19, 2014

Belajar Bahasa Inggris Asyik Bersama Bule Amerika dan UK

Jum’at pagi (7/2), MAPK Solo menyelenggarakan acara Native Speaker, yang diikuti oleh seluruh siswa dan siswi kelas XI. Kegiatan yang merupakan agenda semesteran ini dihadiri oleh nara sumber Mr. Alan dari United Kingdom dan Mr. Benjamin dari Amerika, yang keduanya merupakan tenaga pengajar di lembaga English First. Beberapa dewan guru dan asatidz juga turut mengikuti acara yang diselenggarakan di Aula MAPK ini.
Tema yang diusung dalam acara ini adalah “Be wise in using Teclonogy”. Namun demikian, nara sumber tidak hanya berbicara terkait dengan tema, melainkan juga memberikan materi-materi tentang pembelajaran bahasa Inggris yang baik dan efektif, terutama bagi pemula. Menggunakan bantuan LCD Proyektor, nara sumber menjelaskan kepada para siswa tentang klasifikasi kata dalam bahasa Inggris, sehingga mereka dapat memahami dan membedakannya.
Acara semakin menarik ketika kedua nara sumber memberikan tugas kepada para siswa dan meminta mereka untuk maju dan membacakan hasil kerjanya. Selain itu, nara sumber juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya dan berdialog langsung. Ini tentunya melatih keberanian sekaligus skill para siswa untuk dapat berkomunikasi langsung dengan Native Speaker. Selain melatih kemampuan listening, agenda ini juga melatih kemampuan speaking para siswa.
Acara semacam ini merupakan agenda rutin tahunan sekolah, yang mendatangkan para Native Speaker, baik dalam bahasa Inggris maupun Arab. Hal ini telah menjadi sebuah tradisi yang terus dijaga, karena MAPK Solo memang concern dalam pengembangan bahasa asing, terutama Arab dan Inggris, yang secara riil diterapkan dalam percakapan sehari-hari para siswanya di asrama

Friday, May 24, 2013

SARTRA TEPI JALAN : CATATAN PERJALANAN SATRA ZAKKY ZULHAZMI ALUMNI MAPK SOLO

Lantaran sastra amat dekat dengan cerita dan dongeng, maka di paper sederhana ini saya akan bercerita saja. Barangkali lewat cerita yang cair, pokok-pokok pikiran justru lebih mudah disampaikan.

Pada mulanya adalah masa kecil yang riuh. Saya bersyukur, ketika kecil sudah dekat dengan beberapa bacaan. Saat itu saya berkenalan dengan majalah Bobo dan Mentari. Alhamdulillah, saya diberi kesempatan untuk berlangganan dua majalah anak-anak tersebut. Dari banyak rubrik di kedua majalah itu saya sangat menyenangi rubrik cerita pendek. Masih lekat pula di ingatan saya, pada masa itu saya akrab pula dengan dongeng-dongeng yang diceritakan di malam-malam yang hangat oleh orang tua dan kakek-nenek saya.

Tanpa saya sadari, bacaan yang saya konsumsi dan dongeng-dongeng yang saya dengar mematik imaji saya. Yang di kemudian hari menjadi benih-benih cerita yang satu-persatu mulai mewujud.

Selanjutnya, bacaan saya berkembang saat saya menginjak bangku sekolah dasar. Rumah saya ketika itu amat dekat dengan persewaan komik. Tak ayal, setiap akhir pekan saya menyewa empat sampai lima komik untuk saya lahap seharian. Dulu saya gemar betul membaca komik Doraemon dan Conan. Tapi sekarang saya tidak terlalu suka membaca komik. Entah mengapa. Di samping komik, ketika itu bacaan saya agak meluas lantaran memiliki akses ke perpustakaan sekolah. Lagi-lagi buku yang saya comot adalah buku cerita. Satu buku cerita anak-anak yang belum saya lupakan sampai sekarang adalah sebuah buku yang berkisah tentang persahabatan seorang anak desa dengan burung gelatik. Sayangnya, saya lupa judul dan pengarang buku itu.

Setelah lulus SD saya hijrah ke Solo dan masuk pesantren. Bagi saya, dari Ponorogo ke Solo adalah sebuah perpindahan yang mahal. Pasalnya di Solo saya bisa belajar banyak hal. Persentuhan saya dengan sastra juga semakin intens. Sejujurnya, masa-masa di pesantren adalah masa yang membahagiakan. Karena saat itu bacaan begitu melimpah dan untuk kali pertama tulisan saya dimuat di media massa. Cerpen pertama saya yang dimuat berjudul Topeng Bakmi. Bercerita tentang seorang tukang bakmi yang ternyata adalah provokator di sebuah demonstrasi. Sehingga demo berakhir chaos. Cerpen itu dimuat di majalah pesantren yang dicetak tidak sedikit. Dari sana saya jadi percaya diri dan mulai rajin menulis.

Perjalanan takdir membawa saya bertemu dengan sebuah sekolah yang membuat banyak perubahan di hidup saya: MAPK Solo. Saya harus bilang bahwa sekolah ini adalah sekolah yang tiada tanding. Saya bisa bilang begitu justru ketika saya sudah lulus dari MAPK. Ya, sesuatu yang dilihat dari luar kadang memang lebih objektif. Saya dan kita semua sepatutnya berbangga menjadi bagian dari MAPK Solo karena sekolah ini adalah sekolah yang istimewa. Meski hanya sekolah di pinggirang kota Solo, berdekatan dengan kuburan, serta luasnya tak seberapa, tapi sudah berapa alumni yang bisa dikirim ke luar negeri? Berapa alumni yang ‘jadi orang’ di kampus-kampus besar di Indonesia? Entah yang menjadi ketua BEM, ketua organisasi, think thank di sebuah komunitas dan lain sebagainya.

Saya pikir, apa yang saya utarakan di atas sudah menjadi common sense, semua sudah tahu. Namun, ada hal penting yang kadang luput diperhatikan, yakni terkait proses bagaimana siswa-siswi MAPK ditemani dalam tumbuh kembangnya. Maksud saya adalah mengenai iklim dan sistem yang terbentuk di MAPK Solo ini. Saya tidak tahu, sekolah mana yang punya acara sebagus Stratik, Gesma, CPI, LF, LC, CDR, HAC, muhadloroh dan acara-acara lain yang sudah menjadi ciri kuat MAPK Solo. Saya melihat dari lomba-lomba dan kegiatan itu ada kecenderungan bahwa MAPK sungguh-sungguh ingin memberdayakan anak didiknya baik dari sisi kesenian, intelektual, spiritual dan mental.

Pembacaan saya, akan muncul jiwa-jiwa kompetitif dalam diri siswa-siswi MAPK lantaran biasa mengikuti lomba. Entah itu lomba di dalam ataupun di luar. Nuansa kompetitif itu diperkuat pula dengan sejumlah pelatihan, semisal pelatihan menulis dan kaligrafi yang diadakan rutin seminggu sekali, yang tentu saja akan menaikkan ‘derajat’ siswa itu sendiri. Di MAPK Solo, kita sejatinya juga sudah ‘belajar pluralisme’ jauh sebelum orang-orang ribut soal pluralisme. Ya, keberagaman sudah bukan barang baru di MAPK. Mereka yang PAN, PKB atau PKS bisa jalan-jalan bareng dengan santai. Mereka yang NU dan Muhammadiyah bisa satu kamar tanpa ada ribut.

Dan saya bersyukur telah menjadi bagian dari itu semua.
Kini saya bisa mengenang sejumlah cerita saat saya di MAPK yang kadang membuat saya mengharu biru. Saya pertama-tama ingin mengingat ketika saya dan beberapa teman menginisiasi berdirinya Komunitas Ketik. Sebuah komunitas kepenulisan, kecil, tanpa funding, yang hingga kini masih terus bergeliat. Saya, Arobi, Cindy dan Nafisah (kami dari MAPK) adalah penggagas awal berdirinya komunitas tersebut. Kelas atas MAPK juga merupakan saksi bisu berdirinya Komunitas Ketik. Komunitas yang pada awalnya beranggotakan 13 orang dari 5 SMA di Solo ini terus tumbuh dan masih rajin melakukan kerja-kerja nirlaba mengkampanyekan gerakan gemar membaca-menulis di beberapa SMA di Solo. Dan setiap ulang tahun komunitas ini, yakni pada tanggal 17 Juni, selalu diperingati secara meriah.

Saya juga ingin bercerita saat tim mading MAPK Solo bisa menjadi yang terbaik di Kota Solo. Mengalahkan SMAN 1, SMAN 3 dan Assalam. Padahal ‘modal’ kita hanya alakadarnya. Tapi secara kreatifitas dan konten kita boleh diadu. Saya juga terkenang saat mengantarkan majalah Inthilaq menjadi terbaik ketiga tingkat Jawa Tengah. Bersama seorang kawan, usai sholat subuh saya berangkat ke Unnes, Semarang untuk mengambil piala serta hadiah. Dan saat sore hari kami pulang ke asrama, sambutan meriah teman-teman ternyata sudah menanti. Pun saya ingat saat menjuarai lomba menulis cerpen di SMAN 1 Solo, yang tak lama berselang di sambung dengan menyabet juara dua (sekaligus juara 1) lomba menulis esai Harian Joglosemar. Karena lomba itu, saya berkesempatan untuk makan siang bersama Pak Jokowi di Loji Gandrung, rumah dinas walikota di Jalan Slamet Riyadi. Saya yakin, semua yang saya raih bukan semata-mata karena kerja keras saya, ada campur tangan MAPK dan Tuhan di sana.

Untuk semua anugerah itu saya ingin mengucap terima kasih sebesar-besarnya.

Kabar dari Kesunyian dan Sastra Tepi Jalan

Setelah saya panjang lebar bercerita tentang ‘diri saya’ di masa lampau, di bagian ini saya ingin bercerita tentang buku kumpulan cerpen dan pandangan saya mengenai sastra. Pada mulanya adalah cinta. Saya mencintai sastra dengan cinta yang sederhana. Di awal kuliah, saat saya sudah berjarak dengan teman-teman Komunitas Ketik, saya memiliki angan-angan untuk membentuk sebuah komunitas sastra di UIN Jakarta. Tak membuang waktu, hadir Tongkrongan Sastra Senjakala, yang saya bidani kelahirannya bersama dengan sahabat Nasihin Aziz Raharjo (alumni MAPK dua tahun di atas saya). Komunitas sastra kecil yang independen (tanpa funding) itu menggelar diskusi rutin mingguan setiap hari Rabu jam 4 sore hingga senja tiba. Selain juga rutin menerbitkan buletin sastra bulanan, Teh Hangat. Puncaknya, Tongkrongan Sastra Senjakala berhasil menerbitkan buku kumpulan cerpen bertajuk Sunyi, kumpulan cerpen pertama mahasiswa UIN Jakarta.

Tongkrongan Sastra Senjakala terus berproses hingga muncul gagasan membentuk Penerbit Buku Senjakala. Gagasan itu tidak hanya berhenti di langit, tapi telah turun ke bumi dengan penerbitan buku perdana: Kabar dari Kesunyian. Sebuah buku kumpulan cerpen yang berisi 15 cerpen saya. Kebetulan cerpen-cerpen di buku itu sudah pernah mampir di beberapa surat kabar semisal Republika, SoloPos, Joglosemar, Jurnal Nasional dan lain-lain. Menurut hemat saya, pemuatan cerpen saya di sejumlah media massa bukan berarti saya adalah pengikut arus utama sastra Indonesia, yakni sastra koran. Saya hanya ingin ‘mengukur’ sejauh mana tingkat penerimaan karya saya oleh para redaktur sastra koran.

Di Tongkrongan Sastra Senjakala saya sebenarnya ‘diajarkan’ untuk terus mengusung manifesto ‘sastra merdeka’. Manifesto itu pada intinya menekankan kemerdekaan dalam berkarya. Salah satu bunyi manifesto sastra merdeka adalah “…tidaklah bijak bila akhirnya karya sastra hanya bisa dibaca dan difahami oleh orang-orang tertentu. Bila seperti ini kejadiannya yang menjadi buruk adalah sastra tidak menjadi karya yang populis dan demokratis, justru karya sastra seakan menjadi wadah dari kesombongan intelektual…“

Dalam berkarya saya tidak ingin bersetia pada sebuah gerbong, misalnya, sastra Islam, sastra surealis, sastra realisme magis dan aliran-aliran lain dalam sastra. Marilah kita memerdekakan diri dalam berkarya. Sastra saya juga semoga tidak menghamba pada uang, yaitu selalu berupaya menukar karya dengan rupiah. Tidak pula menuhankan koran atau media massa sebagai satu-satunya labuhan akhir. Biarlah ia merdeka apa adanya. Sebab, setahu saya, antara berkesenian dengan pamrih dan tanpa pamrih jelas berbeda kualitas dan nilai kegembiraannya.

Semoga saya masih bisa memegang satu pedoman berkarya: menulis untuk menulis. Tidak peduli karya saya nanti berada di tengah jalan utama kesusasteraan Indonesia atau cuma berada di pinggiran. Jika ada yang punya kesempatan untuk membuka cerpenzakky.blogspot.com akan terbaca bahwa dalam menulis sastra saya mungkin sedang menulis sastra tepi jalan. Tulisan-tulisan yang tidak diperhitungkan. Yang tidak berada dalam arus besar sastra Indonesia. Tapi itu tidak masalah. Sebab memang bukanlah itu yang kita cari. Di atas segalanya, kita ingin menemukan kegembiraan dalam sastra. Dalam menulis puisi, cerpen, novel atau apapun wujudnya. Mari kita tempuh sastra tepi jalan. 
(Dasalin dari www.zakky.zulhazmi.com)

Friday, May 10, 2013

PROFILE SISWA



ANIS TUING: THE MULTI TALENT GIRL
Oleh : Laily Syarifah (XI pi-2)

Anis Tuing Isti Nur Syarifah itulah nama lengkapnya. Siapa yang tidak kenal dengan jilbaber
satu ini, yang tidak diragukan kemampuan baca kitab kuningnya, karena ukhti yang satu ini pernah menjuarai lomba baca kitab kuning (kitab gundul) tingkat nasional. 
Ukhti Anis, begitulah ia biasanya dipanggil, sosok yang memiliki hobi membaca buku ini di lahirkan di tanah Kendal, 8 April 1995, dari kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai PNS, yang beralamat di Pagersari RT 01 RW 01 Patean, Kendal.
            Riwayat pendidikannya dimulai dari TK ABA Patean Kendal, kemudian melanjutkan ke MI Muhammadiyah Pagersari Kendal. Tamat dari MI Muhammadiyah, ia melanjutkan sutudinya di MTs Muhammadiyah 02 Patean sambil mondok di Pondok Pesantren Darul Arqom. Setelah lulus dari SLTP ia dihadapkan pada banyak pilihan sekolah. Ia memantapkan diri untuk memilih belajar di MAPK MAN 1 Surakarta untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Qori’ah yang memiliki motto, “today must be better than yesterday” dan “ time is sword” ini tidak hanya berprestasi di bidang akademik dia juga aktif di berbagai organisasi pelajar. Ia pernah menjadi wakil ketua organisasi santri di Darul Arqom, menjadi ketua penggerak bahasa di pondok yang sama, di MAPK Surakarta pernah menjabat sebagai ketua rayon dan bendahara kepanitiaan Camping Dakwah Ramadhan. Seperti di Pondok sebelumnya di MAPK pun ia juga pernah menjabat sebagai ketua penggerak bahasa, berkat kehandalannya di bidang bahasa Arab dan bahasa Inggris.

Tak hanya satu ataupun dua prestasi yang telah ia capai, karena mulai dari TK, dia telah menjuarai lomba tartil tingkat kabupaten, kemudian bakatya pun dikembangkannya hingga SD dia berhasil menjuarai lomba tilawatil qur’an.

Selain bercita-cita menjadi hafidzoh ia juga bercita-cita menjadi seorang penulis, komikus, serta ilmuan. Dengan segala potensi dan prestasinya tidak membuatnya menjadi pribadi yang sombong, sebaliknya ia adalah sosok yang bertahan dalam ketawadhuannya dan selalu membantu teman dalam belajar dan selalu belajar dan selalu berusaha keras untuk mengembangkan potensinya.