Bisnis Mudah, halal dan barokah : di Internet

Wednesday, February 19, 2014

Belajar Bahasa Inggris Asyik Bersama Bule Amerika dan UK

Jum’at pagi (7/2), MAPK Solo menyelenggarakan acara Native Speaker, yang diikuti oleh seluruh siswa dan siswi kelas XI. Kegiatan yang merupakan agenda semesteran ini dihadiri oleh nara sumber Mr. Alan dari United Kingdom dan Mr. Benjamin dari Amerika, yang keduanya merupakan tenaga pengajar di lembaga English First. Beberapa dewan guru dan asatidz juga turut mengikuti acara yang diselenggarakan di Aula MAPK ini.
Tema yang diusung dalam acara ini adalah “Be wise in using Teclonogy”. Namun demikian, nara sumber tidak hanya berbicara terkait dengan tema, melainkan juga memberikan materi-materi tentang pembelajaran bahasa Inggris yang baik dan efektif, terutama bagi pemula. Menggunakan bantuan LCD Proyektor, nara sumber menjelaskan kepada para siswa tentang klasifikasi kata dalam bahasa Inggris, sehingga mereka dapat memahami dan membedakannya.
Acara semakin menarik ketika kedua nara sumber memberikan tugas kepada para siswa dan meminta mereka untuk maju dan membacakan hasil kerjanya. Selain itu, nara sumber juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya dan berdialog langsung. Ini tentunya melatih keberanian sekaligus skill para siswa untuk dapat berkomunikasi langsung dengan Native Speaker. Selain melatih kemampuan listening, agenda ini juga melatih kemampuan speaking para siswa.
Acara semacam ini merupakan agenda rutin tahunan sekolah, yang mendatangkan para Native Speaker, baik dalam bahasa Inggris maupun Arab. Hal ini telah menjadi sebuah tradisi yang terus dijaga, karena MAPK Solo memang concern dalam pengembangan bahasa asing, terutama Arab dan Inggris, yang secara riil diterapkan dalam percakapan sehari-hari para siswanya di asrama

Friday, May 24, 2013

SARTRA TEPI JALAN : CATATAN PERJALANAN SATRA ZAKKY ZULHAZMI ALUMNI MAPK SOLO

Lantaran sastra amat dekat dengan cerita dan dongeng, maka di paper sederhana ini saya akan bercerita saja. Barangkali lewat cerita yang cair, pokok-pokok pikiran justru lebih mudah disampaikan.

Pada mulanya adalah masa kecil yang riuh. Saya bersyukur, ketika kecil sudah dekat dengan beberapa bacaan. Saat itu saya berkenalan dengan majalah Bobo dan Mentari. Alhamdulillah, saya diberi kesempatan untuk berlangganan dua majalah anak-anak tersebut. Dari banyak rubrik di kedua majalah itu saya sangat menyenangi rubrik cerita pendek. Masih lekat pula di ingatan saya, pada masa itu saya akrab pula dengan dongeng-dongeng yang diceritakan di malam-malam yang hangat oleh orang tua dan kakek-nenek saya.

Tanpa saya sadari, bacaan yang saya konsumsi dan dongeng-dongeng yang saya dengar mematik imaji saya. Yang di kemudian hari menjadi benih-benih cerita yang satu-persatu mulai mewujud.

Selanjutnya, bacaan saya berkembang saat saya menginjak bangku sekolah dasar. Rumah saya ketika itu amat dekat dengan persewaan komik. Tak ayal, setiap akhir pekan saya menyewa empat sampai lima komik untuk saya lahap seharian. Dulu saya gemar betul membaca komik Doraemon dan Conan. Tapi sekarang saya tidak terlalu suka membaca komik. Entah mengapa. Di samping komik, ketika itu bacaan saya agak meluas lantaran memiliki akses ke perpustakaan sekolah. Lagi-lagi buku yang saya comot adalah buku cerita. Satu buku cerita anak-anak yang belum saya lupakan sampai sekarang adalah sebuah buku yang berkisah tentang persahabatan seorang anak desa dengan burung gelatik. Sayangnya, saya lupa judul dan pengarang buku itu.

Setelah lulus SD saya hijrah ke Solo dan masuk pesantren. Bagi saya, dari Ponorogo ke Solo adalah sebuah perpindahan yang mahal. Pasalnya di Solo saya bisa belajar banyak hal. Persentuhan saya dengan sastra juga semakin intens. Sejujurnya, masa-masa di pesantren adalah masa yang membahagiakan. Karena saat itu bacaan begitu melimpah dan untuk kali pertama tulisan saya dimuat di media massa. Cerpen pertama saya yang dimuat berjudul Topeng Bakmi. Bercerita tentang seorang tukang bakmi yang ternyata adalah provokator di sebuah demonstrasi. Sehingga demo berakhir chaos. Cerpen itu dimuat di majalah pesantren yang dicetak tidak sedikit. Dari sana saya jadi percaya diri dan mulai rajin menulis.

Perjalanan takdir membawa saya bertemu dengan sebuah sekolah yang membuat banyak perubahan di hidup saya: MAPK Solo. Saya harus bilang bahwa sekolah ini adalah sekolah yang tiada tanding. Saya bisa bilang begitu justru ketika saya sudah lulus dari MAPK. Ya, sesuatu yang dilihat dari luar kadang memang lebih objektif. Saya dan kita semua sepatutnya berbangga menjadi bagian dari MAPK Solo karena sekolah ini adalah sekolah yang istimewa. Meski hanya sekolah di pinggirang kota Solo, berdekatan dengan kuburan, serta luasnya tak seberapa, tapi sudah berapa alumni yang bisa dikirim ke luar negeri? Berapa alumni yang ‘jadi orang’ di kampus-kampus besar di Indonesia? Entah yang menjadi ketua BEM, ketua organisasi, think thank di sebuah komunitas dan lain sebagainya.

Saya pikir, apa yang saya utarakan di atas sudah menjadi common sense, semua sudah tahu. Namun, ada hal penting yang kadang luput diperhatikan, yakni terkait proses bagaimana siswa-siswi MAPK ditemani dalam tumbuh kembangnya. Maksud saya adalah mengenai iklim dan sistem yang terbentuk di MAPK Solo ini. Saya tidak tahu, sekolah mana yang punya acara sebagus Stratik, Gesma, CPI, LF, LC, CDR, HAC, muhadloroh dan acara-acara lain yang sudah menjadi ciri kuat MAPK Solo. Saya melihat dari lomba-lomba dan kegiatan itu ada kecenderungan bahwa MAPK sungguh-sungguh ingin memberdayakan anak didiknya baik dari sisi kesenian, intelektual, spiritual dan mental.

Pembacaan saya, akan muncul jiwa-jiwa kompetitif dalam diri siswa-siswi MAPK lantaran biasa mengikuti lomba. Entah itu lomba di dalam ataupun di luar. Nuansa kompetitif itu diperkuat pula dengan sejumlah pelatihan, semisal pelatihan menulis dan kaligrafi yang diadakan rutin seminggu sekali, yang tentu saja akan menaikkan ‘derajat’ siswa itu sendiri. Di MAPK Solo, kita sejatinya juga sudah ‘belajar pluralisme’ jauh sebelum orang-orang ribut soal pluralisme. Ya, keberagaman sudah bukan barang baru di MAPK. Mereka yang PAN, PKB atau PKS bisa jalan-jalan bareng dengan santai. Mereka yang NU dan Muhammadiyah bisa satu kamar tanpa ada ribut.

Dan saya bersyukur telah menjadi bagian dari itu semua.
Kini saya bisa mengenang sejumlah cerita saat saya di MAPK yang kadang membuat saya mengharu biru. Saya pertama-tama ingin mengingat ketika saya dan beberapa teman menginisiasi berdirinya Komunitas Ketik. Sebuah komunitas kepenulisan, kecil, tanpa funding, yang hingga kini masih terus bergeliat. Saya, Arobi, Cindy dan Nafisah (kami dari MAPK) adalah penggagas awal berdirinya komunitas tersebut. Kelas atas MAPK juga merupakan saksi bisu berdirinya Komunitas Ketik. Komunitas yang pada awalnya beranggotakan 13 orang dari 5 SMA di Solo ini terus tumbuh dan masih rajin melakukan kerja-kerja nirlaba mengkampanyekan gerakan gemar membaca-menulis di beberapa SMA di Solo. Dan setiap ulang tahun komunitas ini, yakni pada tanggal 17 Juni, selalu diperingati secara meriah.

Saya juga ingin bercerita saat tim mading MAPK Solo bisa menjadi yang terbaik di Kota Solo. Mengalahkan SMAN 1, SMAN 3 dan Assalam. Padahal ‘modal’ kita hanya alakadarnya. Tapi secara kreatifitas dan konten kita boleh diadu. Saya juga terkenang saat mengantarkan majalah Inthilaq menjadi terbaik ketiga tingkat Jawa Tengah. Bersama seorang kawan, usai sholat subuh saya berangkat ke Unnes, Semarang untuk mengambil piala serta hadiah. Dan saat sore hari kami pulang ke asrama, sambutan meriah teman-teman ternyata sudah menanti. Pun saya ingat saat menjuarai lomba menulis cerpen di SMAN 1 Solo, yang tak lama berselang di sambung dengan menyabet juara dua (sekaligus juara 1) lomba menulis esai Harian Joglosemar. Karena lomba itu, saya berkesempatan untuk makan siang bersama Pak Jokowi di Loji Gandrung, rumah dinas walikota di Jalan Slamet Riyadi. Saya yakin, semua yang saya raih bukan semata-mata karena kerja keras saya, ada campur tangan MAPK dan Tuhan di sana.

Untuk semua anugerah itu saya ingin mengucap terima kasih sebesar-besarnya.

Kabar dari Kesunyian dan Sastra Tepi Jalan

Setelah saya panjang lebar bercerita tentang ‘diri saya’ di masa lampau, di bagian ini saya ingin bercerita tentang buku kumpulan cerpen dan pandangan saya mengenai sastra. Pada mulanya adalah cinta. Saya mencintai sastra dengan cinta yang sederhana. Di awal kuliah, saat saya sudah berjarak dengan teman-teman Komunitas Ketik, saya memiliki angan-angan untuk membentuk sebuah komunitas sastra di UIN Jakarta. Tak membuang waktu, hadir Tongkrongan Sastra Senjakala, yang saya bidani kelahirannya bersama dengan sahabat Nasihin Aziz Raharjo (alumni MAPK dua tahun di atas saya). Komunitas sastra kecil yang independen (tanpa funding) itu menggelar diskusi rutin mingguan setiap hari Rabu jam 4 sore hingga senja tiba. Selain juga rutin menerbitkan buletin sastra bulanan, Teh Hangat. Puncaknya, Tongkrongan Sastra Senjakala berhasil menerbitkan buku kumpulan cerpen bertajuk Sunyi, kumpulan cerpen pertama mahasiswa UIN Jakarta.

Tongkrongan Sastra Senjakala terus berproses hingga muncul gagasan membentuk Penerbit Buku Senjakala. Gagasan itu tidak hanya berhenti di langit, tapi telah turun ke bumi dengan penerbitan buku perdana: Kabar dari Kesunyian. Sebuah buku kumpulan cerpen yang berisi 15 cerpen saya. Kebetulan cerpen-cerpen di buku itu sudah pernah mampir di beberapa surat kabar semisal Republika, SoloPos, Joglosemar, Jurnal Nasional dan lain-lain. Menurut hemat saya, pemuatan cerpen saya di sejumlah media massa bukan berarti saya adalah pengikut arus utama sastra Indonesia, yakni sastra koran. Saya hanya ingin ‘mengukur’ sejauh mana tingkat penerimaan karya saya oleh para redaktur sastra koran.

Di Tongkrongan Sastra Senjakala saya sebenarnya ‘diajarkan’ untuk terus mengusung manifesto ‘sastra merdeka’. Manifesto itu pada intinya menekankan kemerdekaan dalam berkarya. Salah satu bunyi manifesto sastra merdeka adalah “…tidaklah bijak bila akhirnya karya sastra hanya bisa dibaca dan difahami oleh orang-orang tertentu. Bila seperti ini kejadiannya yang menjadi buruk adalah sastra tidak menjadi karya yang populis dan demokratis, justru karya sastra seakan menjadi wadah dari kesombongan intelektual…“

Dalam berkarya saya tidak ingin bersetia pada sebuah gerbong, misalnya, sastra Islam, sastra surealis, sastra realisme magis dan aliran-aliran lain dalam sastra. Marilah kita memerdekakan diri dalam berkarya. Sastra saya juga semoga tidak menghamba pada uang, yaitu selalu berupaya menukar karya dengan rupiah. Tidak pula menuhankan koran atau media massa sebagai satu-satunya labuhan akhir. Biarlah ia merdeka apa adanya. Sebab, setahu saya, antara berkesenian dengan pamrih dan tanpa pamrih jelas berbeda kualitas dan nilai kegembiraannya.

Semoga saya masih bisa memegang satu pedoman berkarya: menulis untuk menulis. Tidak peduli karya saya nanti berada di tengah jalan utama kesusasteraan Indonesia atau cuma berada di pinggiran. Jika ada yang punya kesempatan untuk membuka cerpenzakky.blogspot.com akan terbaca bahwa dalam menulis sastra saya mungkin sedang menulis sastra tepi jalan. Tulisan-tulisan yang tidak diperhitungkan. Yang tidak berada dalam arus besar sastra Indonesia. Tapi itu tidak masalah. Sebab memang bukanlah itu yang kita cari. Di atas segalanya, kita ingin menemukan kegembiraan dalam sastra. Dalam menulis puisi, cerpen, novel atau apapun wujudnya. Mari kita tempuh sastra tepi jalan. 
(Dasalin dari www.zakky.zulhazmi.com)

Friday, May 10, 2013

PROFILE SISWA



ANIS TUING: THE MULTI TALENT GIRL
Oleh : Laily Syarifah (XI pi-2)

Anis Tuing Isti Nur Syarifah itulah nama lengkapnya. Siapa yang tidak kenal dengan jilbaber
satu ini, yang tidak diragukan kemampuan baca kitab kuningnya, karena ukhti yang satu ini pernah menjuarai lomba baca kitab kuning (kitab gundul) tingkat nasional. 
Ukhti Anis, begitulah ia biasanya dipanggil, sosok yang memiliki hobi membaca buku ini di lahirkan di tanah Kendal, 8 April 1995, dari kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai PNS, yang beralamat di Pagersari RT 01 RW 01 Patean, Kendal.
            Riwayat pendidikannya dimulai dari TK ABA Patean Kendal, kemudian melanjutkan ke MI Muhammadiyah Pagersari Kendal. Tamat dari MI Muhammadiyah, ia melanjutkan sutudinya di MTs Muhammadiyah 02 Patean sambil mondok di Pondok Pesantren Darul Arqom. Setelah lulus dari SLTP ia dihadapkan pada banyak pilihan sekolah. Ia memantapkan diri untuk memilih belajar di MAPK MAN 1 Surakarta untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Qori’ah yang memiliki motto, “today must be better than yesterday” dan “ time is sword” ini tidak hanya berprestasi di bidang akademik dia juga aktif di berbagai organisasi pelajar. Ia pernah menjadi wakil ketua organisasi santri di Darul Arqom, menjadi ketua penggerak bahasa di pondok yang sama, di MAPK Surakarta pernah menjabat sebagai ketua rayon dan bendahara kepanitiaan Camping Dakwah Ramadhan. Seperti di Pondok sebelumnya di MAPK pun ia juga pernah menjabat sebagai ketua penggerak bahasa, berkat kehandalannya di bidang bahasa Arab dan bahasa Inggris.

Tak hanya satu ataupun dua prestasi yang telah ia capai, karena mulai dari TK, dia telah menjuarai lomba tartil tingkat kabupaten, kemudian bakatya pun dikembangkannya hingga SD dia berhasil menjuarai lomba tilawatil qur’an.

Selain bercita-cita menjadi hafidzoh ia juga bercita-cita menjadi seorang penulis, komikus, serta ilmuan. Dengan segala potensi dan prestasinya tidak membuatnya menjadi pribadi yang sombong, sebaliknya ia adalah sosok yang bertahan dalam ketawadhuannya dan selalu membantu teman dalam belajar dan selalu belajar dan selalu berusaha keras untuk mengembangkan potensinya.

Saturday, January 19, 2013

KH. ROSYIDI ASROFI,LC.: 23 TAHUN PENGABDIAN UNTUK MAPK SURAKARTA


Bersahaja, “ngangenke”, itulah kesan umum yang paling kuat dari sosok KH.Rosyidi Asrafi,Lc. Genap di usia 70 tahun (2013) , beliau memutuskan berhenti mengajar di MAPK Surakarta, meskipun ilmu,keteladanan dan inspirasinya masih diperlukan di MAPK Surakarta. Sejak mula berdirinya  MAPK Surakarta pada tahun 1990 beliau adalah salah satu tokoh penting yang menjadi salah satu kyai yang dipersyaratkan untuk penyelenggaraan MAPK. Bersama para kyai lain di kota Solo, seperti KH. Musthofa (alm), KH. Jalal Suyuti (alm), KH. Rasyid Wasi’un (alm) beliau menjadi “the Fouding father” sekaligus perentas jalan kesuksesan MAPK Surakarta sehingga melahirkan alumni-alumni yang cemerlang dan tersebar di perguruan tinggi baik di dalam maupun di luar negeri, baik di Timur Tengah maupun di Eropa. Sudah banyak doktor yang pernah mendapat “sentuhan tangan”  beliau. Penulis tersohor Habiburrahman Elsiraji dan pengamat politik Burhanuddin Muhtadi adalah salah satu alumni MAPK Surakarta yang merasakan betapa “dahsyatnya” inspirasi yang beliau pancarkan pada santri-santri MAPK Surakarta.
Sudah lebih dari seratus alumni MAPK Surakarta yang mengenyam pendidikan tinggi di luar negeri, khususnya di Timur Tengah. Dan hal ini tidak terlepas dari inspirasi dan jasa beliu yang senantiasa memotivasi santri MAPK Surakarta untuk melanjutkan studi ke Timur Tengah terutama Al Azhar Kairo. Bahkan beliau tidak hanya menginspirasi, tetapi membatu para santri untuk mewujudkan impiannya belajar di Mesir tersebut dengan mengkoordinir dan mengantarkan mereka ke sana. Hal inilah yang menjadikan MAPK Surakarta dikenal di Al Azhar, karena madrasah ini tiap tahun dapat mengirim sekitar 8 s.d.12 santri, sementara MAPK lain pada waktu itu hanya mengirim 1,2 alumninya saja. Hal ini pula yang menjadikan Syeikh al-Azhar  Jadil Haq Ali Jadil Haq menyempatkan diri berkunjung ke MAPK Surakarta dalam rangkaian lawatannya ke Indonesia pada tahun 1995.
Di samping sebagai seorang kyai yang tawadhu’ dan bersahaja, di MAPK Surakarta beliau dikenal dengan kekhasan uslub bahasa Arab yang di ajarkan pada santri. Sehingga beliau menjadi icon bahasa Arab di madrasah ini. Uslub dan idiom bahasa Arab yang beliau ajarkan sangat mudah mudah diingat dan dipraktekkan oleh para santri. Setiap santri beliau, mesti akan ingat ungkapan” hadza aktsar minal lazim”(ini lebih dari cukup), “huwa huwa kama huwa” (itu-itu saja), atau ungkapan “faridah min nau’iha”(lain dari yang lain). Bahkan gaya pembukaan pidato beliau dengan mudah dihafal dan ditiru oleh para santri dalam muhadharah, seperti pembukaan “ uhayyikum tahiyyatn islamiyatan aathirassalami kas syamsi wa dhuhaaha….
KH. Rasyidi Asrafi, LC. lahir di Muntilan Magelang pada tahun 1943. Pendidikan Agama beliau peroleh antara lain dari Pondok Moderen Gontor dan sempat pula belajar di Madrasah Thowalib Padang Panjang sebelum akhirnya belajar di Al Azhar Kairo jurusan Bahasa Arab. Selain belajar di Mesir beliau juga pernah bekerja di sana,beliau tinggal di Mesir selama 13 tahun dan sempat pula pergi ke beberapa Negara Eropa seperti Belanda. Ketika beliau pulang ke Indonesia baliau diminta untuk mengajar di beberapa Pondok Pesantren seperti Assalam dan Al Mukmin Ngruki. Beliau juga aktif di Dewan Dakwah Islamiyah di kota Surakarta.
KH. Rasyidi dikarunia tiga orang anak, 1 laki-laki dan 2 perempuan. Anak pertama beliau juga lulusan Al Azhar Mesir.
Pada acara kalimatul wada’ (pelepasan) di Aula MAPK Surakarta , di hadapan para asaatidz dan santri dengan berlinang air mata beliu mengungkapkan kebanggaan dan rasa cintanya kepada MAPK Surakarta. Beliau berharap agar MAPK tetap eksis dan tetap menjadi pencetak kader ulama dan tetap mengirim alumninya ke luar negeri. Kepada para santri beliau mendorong untuk terus bercita-cita tinggi dan berusaha mewujudkan cita-citanya. Pesan terakhir yang beliau sampaikan pada para santri adalah “ Hidup Cuma satu kali , maka hiduplah yang berarti”. “Ilmu itu ada dua ‘ ilmu bermanfaat dan ilmu yang tidak bermanfaat, maka gapailah ilmu yang bermanfaat”.
Wadda’an ayyuha ustadzuna al kariiim

Friday, November 9, 2012

Abdurrahman Al Farid Peraih Juara II Pidato Bahasa Arab DIY-Jateng, Bercita-cita Kuliah di Tunisia



Abdurrahman Alfarid , siswa Program Khusus MAN 1 Surakarta meraih juara II pada lomba pidato Bahasa Arab DIY-Jateng yang diselenggarakan oleh Jurusan Sastra Asia Fakultas Ilmu Budaya UGM pada pekan kedua bulan November 2012 yang lalu. Kegiatan lomba Pidato Bahasa Arab yang merupakan salah satu rangkaian dari acara Festival Budaya Arab ini diikuti oleh siswa-siswi SLTA dari MA, SMA dan pondok pesantren di wilayah Yogjakarta dan Jawa Tengah. Abdurrahman Alfarid membawakan pidato yang berjudul “ Ta’tsir al-Lughah al ‘Arabiyah fi Takwiin Syakhsiyah as-Syabab al-Muslimin al-Mutamayyizah” ( Pengaruh Bahasa Arab dalam Membentuk kepribadian Remaja Muslim).

Kepada mapksolo.com Abdurrahman Alfarid menuturkan kegembiraannya dan rasa syukurnya atas prestasi yang diperolehnya ini, meskipun tidak meraih juara pertama. Bagi siswa yang berasal dari Daerah Jeron Kalioso ini, hoby berpidato dalam bahasa Arab telah ditekuni sejak masih belajar di Madrasah Tsanawiyah. Hingga kini Abdurrahman Al Farid telah mengoleksi lebih dari 8 tropy kejuaraan di bidang pidato bahasa Arab, yang sebagain besar untuk tingkat Karesidenan Surakarta. 

Kegemaran siswa yang masuk ke Program Khsusus MAN 1 Surakarta melalui penjaringan siswa berbakat ketika menjuara Pidato bahasa Arab pada ajang MAPK Fair ini, tidak terlepas dari kesukaannya untuk memdalami bahasa Arab. Dan saat ini ia merasa mendapat tempat yang sesuai    untuk mempelajari bahasa Arab dengan bersekolah di Program Khusus MAN 1 Surakarta. Ia pun bercita-cita untuk melanjutkan studinya di Timur  Tengah khususnya di Universitas Az Zaituna Tunisia.

Friday, June 22, 2012

Alumni MAPK Solo Kembali Raih Gelar Magister dari Universitas Al-Azhar

Siapa sangka siang itu, selasa, (19/6) 2012 sepanas 36 derajat itu bisa mendadak sejuk. Angin kebanggaan menerpa siapa saja yang hadir di Aula Syekh Humrusy Fak. Bahasa Arab Univ. Al-Azhar Kairo Mesir.
Tepuk tangan gegap gempita mengiringi keharuan Aminah Nurfida yang tengah memeluk erat putranya, Nabigh. Seolah simpul segala penat yang terasa, disertai kondisi diri dan anaknya yang menurun, terurai lepas. Sejurus dengan pengumuman hasil sidang tesis suaminya, Sugeng Hariyadi yang meraih predikat tertinggi dalam tingkatan hasil munaqosyah. Bukan hanya imtiyaz, dan bukan pula imtiyaz bissyarof. Tesis beliau dengan judul “Tasybihat Abi Hamid al-Ghozali at-Tamtsiliyat fi Kitabi Ihya ‘Ulumi ad-Din, Gaya Bahasa Tamsil Imam Ghazali Dalam Kitab Ihya Ulumuddin (Studi Balaghah)” berhasil menyabet predikat mumtaz ma’a taushiyah bittob’ binafaqotil jamiah, cumlaude dengan tesis yang dicetak dan disebarluaskan dengan tanggungan biaya dari pihak Univ. Azhar.

Sidang dengan penguji Prof. Dr. Ibrahim Khuli dan Prof. Dr. Samir Yusuf Ulaiwa, didampingi pembimbing beliau Prof. Dr. Muh. Amin Khudari dan Prof. Dr. Muh. Abdul Alim Dusuqi memang berjalan alot sebagaimana sidang tesis yang lain. Dimulai sesuai jadwal, pukul 10.00 waktu Cairo dan berakhir tengah hari, sidang menghabiskan waktu 3 jam tanpa henti. Setiap pertanyaan yang terlontar seakan tak menyisakan waktu untuk beliau menjawab. Namun disela-sela komentarnya, penguji tak lepas dari kata-kata pujian terhadap tesis ini, sambil terus mengatakan bahwa apa yang dihasilkan Sugeng Hariyadi adalah kerja keras nyata dan amal saleh. Diantara pujian yang tertuju pada alumni MAPK Solo ini juga, adalah bahwasanya beliau bukanlah non-Arab lagi, melainkan sudah menjadi Arabi serapan yang mengalahkan Arabi asli. Subhanallah, semoga kesuksesan beliau menjadi motivasi bagi kita semua. Sekali lagi selamat untuk Ust. Sugeng Haryadi, MA yang telah menyelesaikan studi s2 dengan predikat sangat membanggakan, semoga apa yang telah beliau torehkan bisa menjadi pemicu semangat teman-teman Misykati lainnya untuk bisa berprestasi secemerlang beliau. Amiin [Nikmah](sumber : Misykati).